Autumn in My Heart (Endless Love)
DraKor Tahun 2000
Episode 1 Part 1
Di
luar ruangan bayi di sebuah rumah sakit. Ayah Joon Seo menggendong Joon Seo
yang masih balita untuk melihat adik Joon Seo dari kaca ruangan bayi.
Ayah
Yoon Joon Seo : “Yoon Joon-Seo, itu adik
bayimu. Bukankah dia cantik? Ayah segera kembali. Jangan kemana-mana ya”
Joon
Seo kecil diturunkan dari pelukan ayahnya. Kemudian ayah Joon Seo pergi secara
bersamaan seorang suster keluar dari ruangan bayi tanpa menutup pintu sehingga
Joon Seo masuk ruangan bayi tanpa diketahui. Di dalam ruangan, Joon Seo kecil
melepas 2 kartu nama dari box bayi dan melemparkannya ke lantai. Kemudian
suster pun datang.
Suster : “Kamu tidak boleh bermain di sini ya”
Suster
melihat 2 papan nama tersebar di lantai
Suster : “Apakah kamu yang melepasnya?”
Suster
pun memasangnya tanpa tau bahwa kartu namanya tertukar. Kemudian suster
mengendong Joon Seo keluar ruangan bayi.
15
tahun kemudian…
Di sebuah perbukitan hijau yang indah, Nampak
dua remaja sedang bersepeda berdampingan dengan sangat bahagia.
Di kelas seni di sekolah, Joon Seo remaja
sedang melukis dengan serius dan menjatuhkan kuasnya. Saat sedang bersimpuh
mengambil kuas, tiba-tiba seorang siswi culun masuk ke ruangan tersebut dan
duduk kemudian menangis tanpa melihat sekelilingnya. Siswi culun itu membuka
sebuah surat cinta dan meremasnya dengan penuh kekesalan.
Siswi
culun : “Yoon Joon-Seo, jahat…”
Joon
Seo melihat siswi culun itu dengan heran dari lantai disamping kursinya. Siswi
culun itu kaget melihat Joon Seo dan langsung berdiri dan berhenti menangis.
Siswi
culun : “Yoon Joon-Seo… Apa yang kau
lakukan di sini?”
Joon
Seo pun berdiri dan siswi culun itu mendekati Joon Seo dan memperlihatkan surat
cintanya.
Siswi
culun : “Apakah kau membuang surat ini?”
Joon
Seo : “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud
untuk membuangnya. Tapi tidak ada nama pengirimnya. Aku jadi tak dapat
mengembalikannya padamu. Apa kau keberatan?”
Siswi
Culun : “Apa kau tidak menyukaiku?”
Joon
Seo tersenyum sinis dan melihat pintu kelas. Eun Seo berdiri sambil membawa
beberapa surat cinta.
Joon
Seo : “Sudah ada orang lain.”
Siswi
itu tidak terima dan menampar Joon Seo lalu lari keluar kelas. Joon Seo yang
kesal bergegas membereskan alat lukisnya.
Eun
Seo yang kaget pun mendekati Joon Seo dengan membawa beberapa surat cinta.
Joon
Seo : “Apa yang kau lakukan di sini?”
Eun
Seo : “Ini.”
Eun
Seo memberikan beberapa surat cinta pada Joon Seo. Tapi Joon Seo mengambilnya
dan langsung melemparkannya ke ember berisi air dan kuas.
Joon
Seo : “Kau juga jangan melakukan ini”
Joon
Seo marah dan membawa semua perlengkapannya kemudian berjalan cepat
meninggalkan kelas.
Melihat
Joon Seo meninggalkan, 2 siswi senior yang menunggu diluar kelas pun masuk
kelas seni dan mendekati Eun Seo.
2
Siswi Senior : “Bagaimana? Beritahu kami.”
Eun
Seo menunjuk ke arah ember berisi air dan kuas.
2
Siswi Senior : “Apa ini? Ini surat kami
kan? Apa yang terjadi? Beritahu kami apa yang terjadi.”
2
Siswi Senior kecewa dan memeriksa suratnya.
2
Siswi Senior : “Dia bahkan tidak
membukanya. Keterlaluan.”
Eun
Seo tertawa di belakang mereka.
2
Siswi Senior : “Bagaimana dia bisa
melakukan ini?”
Eun
Seo teringat pada Joon Seo dan langsung berlari menyusulnya ke tempat parkir.
Eun
Seo : “Tunggu aku.”
Eun
Seo menuruni tangga kelas menuju lapangan parkir.
Eun
Seo: “Kak Joon-Seo, aku tidak pintar bersepeda.”
Joon
Seo tidak menghiraukannya dan langsung pergi dengan bersepeda. Eun Seo pun
perlahan menyusulnya dengan sepeda. Joon Seo sesekali menoleh kebelakang dan
melihat Eun Seo yang kesusahan bersepeda. Karna tidak tega, Joon Seo pun turun
dari sepeda dan berjalan menuntun sepedanya. Melihat hal itu, Eun Seo pun ikut
turun dari sepeda dan berjalan menuntun sepeda berdampingan dengan Eun Seo.
Eun
Seo : “Aku melakukan sesuatu yang benci
kakakku lagi. Aku menyesal.”
Joon
Seo melirik sambil tersenyum senang.
Eun
Seo : “Tapi itu tidak sepenuhnya salahku. Aku tidak bisa menolak seniorku.
Lagian kalau kakak tidak mau jadi target mereka,kakak harus punya pacar. Aku lelah
jadi pengirim surat cinta.”
Joon
Seo menoleh dan berhenti.
Eun
Seo : “Tidak, tak masalah, aku hanya ingin kakak memaafkanku.”
Joon
Seo melanjutkan menuntun sepeda sambil tersenyum lebar. Kemudian Joon Seo
berhenti dan menoleh sambil berekspresi datar (poker face). Eun Seo berekspresi
tegang dan ikut berhenti.
Joon
Seo : “Kau dimaafkan.”
Joon
Seo tersenyum. Dan Eun Seo pun ikut tersenyum lega. Kemudian mereka melanjutkan
perjalanan.
Eun
Seo : “Harusnya kakak melakukannya sedari
tadi. Ngomong-omong, siapa yang kakak suka? Siapa? Kakak bilang ada seseorang.”
Joon
Seo : “Diam.”
Eun
Seo : “Siapa dia?”
Joon
Seo : “Rahasia. Jangan bilang apa-apa pada
Ayah dan Ibu.”
Eun
Seo : “Terserah aku dong.”
Joon
Seo : “Yoon Eun-Seo.”
Eun
Seo : “Terserah aku dong.”
Joon
Seo : “Oke, ayo kita main kertas, gunting,
batu untuk itu.”
Eun
Seo : “Oke.”
Eun
Seo melakukan pemanasan jari.
Eun
Seo : “Aku siap.”
Mereka
bersuit.
Eun
Seo : “Aku kalah lagi. Mengapa aku selalu kalah?”
Eun
Seo sebal dan berjalan duluan.
Joon
Seo : “Karna kamu selalu memilih batu.” Joon
Seo bergumam sambil tersenyum sangat lebar. Lalu melanjutkan menuntun sepeda.
Jeon
Seo : “Hujan.”
Mereka
pun menaiki sepedanya lagi sambil hujan-hujanan. Kemudian mereka berteduh di
depan pintu pabrik dalam keadaan basah kuyup.
Eun
Seo : “Kenapa tidak berhenti?”
Joon
Seo : “Hujannya hanya lewat kok.”
Eun
Seo : “Aku basah kuyup. Rokku jadi berat.”
Karena
tidak nyaman dengan roknya, Eun Seo pun melepas roknya dan hanya memakai rok
daleman.
Joon
Seo : “Apa yang kamu lakukan?”
Karena
kaget, Joon Seo pun berdiri di depan Eun Seo berusaha menyembunyikan Eun Seo
dibelakang badannya.
Eun
Seo : “Tidak apa-apa. Tidak ada orang di
sekitar lagian aku memakai rok daleman kok.”
Joon
Seo : “Rok daleman? Sejak kapan kamu mulai
memakai itu?”
Eun
Seo : “Aku sudah dewasa sekarang.”
Eun
Seo menjemur roknya di boncengan sepedanya. Melihat hal itu, Joon Seo tersenyum
bangga sambil melihat rok daleman Eun Seo.
Eun
Seo : “Apa yang kakak lihat?”
Joon
Seo hanya yersenyum sambil melihat hujan yang belum reda kemudian mengulurkan
tangannya ke air hujan dan Eun Seo pun ikut mengulurkan tanggannya menikmati
air hujan.
Di
kamar mandi di rumah Eun Seo. Eun Seo mandi berendam air hangat di bathtube
bersama ibunya. Mereka saling menggosok punggung.
Ibu : “Kakakmu naksir seseorang?”
Eun
Seo : “Dia bilang rahasia.”
Ibu : “Apa kau juga naksir seseorang?”
Eun
Seo : “Ada.”
Ibu : “Siapa dia?”
Eun
Seo : “Seseorang yang ibu kenal. Kakak.”
Ibu
langsung menggelitik Eun Seo dan memegang dada Eun Seo.
Ibu
: “Biarkan ibu lihat, sejak kapan sebesar ini?”
Eun
Seo : “Aku tidak tahu. Mungkin menurun dari ibu.”
Ibu
: “Dasar.”
Eun
Seo : “Sekarang punggung ibu.”
Ibu
: “Kalau udah kuliah dan punya pacar, bilang ke ibu dulu.”
Eun
Seo : “Pasti.”
Eun
Seo menggosok punggung ibu lalu melihat telinga ibu dan membersihkannya dari
belakang.
Eun
Seo : Ibu sepertinya akan kaya.
Ibu
: “Mengapa?”
Eun
Seo : “Ibu punya telinga yang tebal.”
Ibu
: “Nenek juga sama.”
Eun
Seo : “Benarkah? Tapi aku tipis.”
Ibu
: “Benarkah? Seharusnya telingamu tebal juga. Kenapa jadi tipis begini?”
Eun
Seo : “Kurasa aku bukan anak ibu. Aku tidak mirip ibu. Aku pasti diadopsi.”
Ibu : “Apa? Eun-Seo ibu yang cantik.”
Di
ruang makan Ayah, Ibu, Joon Seo dan Eun Seo sedang makan malam.
Eun
Seo : “Aku kenyang. Aku terlalu banyak makan.”
Ibu
: “Makan lebih banyak. Biar dadamu lebih besar.”
Joon
Seo, Ayah dan Eun Seo melotot dan kaget mendengarnya.
Eun
Seo : “Ibu!”
Ibu
: “Sayang, Eun-Seo sudah… Sudah…”
Joon
Seo : “Sudah?”
Eun
Seo : “Ibu…” sambil menyikut ibunya
Ibu
: “Dadanya.”
Ayah
: “Dada?”
Joon
Seo : “Sini, aku lihat.”
Joon
Seo berdiri dari kursi meja makan dan mengejar Eun Seo yang kabur dari meja
makan. Mereka berlarian disekitar meja makan
Eun
Seo : “Bu, hentikan kak Joon-Seo.” masih sambil berlari menghindari Joon Seo.
Hari
sudah larut malam, mereka makan malam di taman belakang rumah dengan sangat
gembira.
Pagi
harinya, Joon Seo dan Eun Seo menuntun sepeda berdampingan menuju sekolah.
Eun
Seo : “Kalau aku terpilih sebagai ketua kelas lagi, tidak janji akan
menghapuskan PR. Tapi aku akan berusaha keras untuk semuanya. Bagaimana pidatoku?”
Joon
Seo : “Kau pikir kakak akan bilang pidatomu kedengarannya cukup bagus, kan?”
Eun
Seo : “Dan kakak pikir, "Dia tidak akan pernah terpilih," kan?”
Joon
Seo : “Kau pikir "Aku akan menang pemilu dan menunjukkan pada kakak,
"benar kan?”
Eun
Seo : “Kakak pikir "Aku harap Eun Seo kalah dari Choi Shin-Ae", benar
kan?”
Joon
Seo : “Choi Shin-ae?”
Eun
Seo : “Dia sainganku.”
Joon
Seo : “Apakah dia menyulitkanmu?”
Eun
Seo : “Tidak.”
Joon
Seo merasa ada yang tidak beres.
Setting
berpindah ke pintu lorong. Terlihat Joon Seo sedang naik tangga menuju pintu
lorong. Sesampainya di lorong, Joon Seo langsung melepaskan sepatunya dan menjinjingnya.
Ternyata Joon Seo sudah ditunggu oleh Choi Shin-Ae dan temannya.
Choi
Shin-Ae : “Senior.”
Joon
Seo : “Murid baru, kau di sini untuk menemuiku?”
Choi
Shin-Ae : “Ya.”
Joon
Seo masuk kelas seni.
Joon
Seo : “Ada apa?”
Choi
Shin-Ae dan temannya ikut masuk kelas seni, mengikuti langkah Joon Seo.
Choi
Shin-Ae : “Aku ingin kau membantuku. Aku sangat menyukai
Lukisanmu
yang dipajang di lorong.”
Joon
Seo : “Jadi?”
Joon
Seo membuka tirai kelas seni. Choi Shin-Ae dan temannya senang karena Joon Seo
menjawab perkataan Choi Shin-Ae.
Choi
Shin-Ae : “Aku ingin kau melukis gambar puisiku untuk kontes puisi.”
Joon
Seo membuka jendela kelas seni. Lalu Joon Seo berbalik badan untuk berbicara
sambil bertatap muka dengan Choi Shin-Ae dan temannya sambil memasang ekspresi
meremehkan.
Joon
Seo : “Kau belum pernah bertemu denganku sebelumnya, kan?”
Choi
Shin-Ae : “Ya? belum.”
Joon
Seo : “Terus kenapa aku harus melukis untukmu?”
Joon
Seo buang muka dan duduk di kursi samping jendela.
Joon
Seo : “Aku agak sibuk. Maaf.”
Choi
Shin-Ae sangat marah dan lari keluar kelas.
Teman
Shin Ae : “Shin-ae. Choi Shin-ae.”
Temannya
Shin Ae ikut berlari mengejar Shin Ae. Mendengar nama Shin Ae, Joon Seo pun
berdiri.
Joon
Seo : “Tunggu.”
Teman
Shin Ae yang baru sampai pintu pun berhenti dan menatap Joon Seo yang masih
berdiri disamping jendela.
Joon
Seo : “Namanya Choi Shin-ae?”
Temannya
Shin Ae : “Ya.”
Joon
Seo tersenyum di sebelah bibirnya.
Joon
Seo : “Dia di kelas 2?
Di
ruangan kelas 2-1.
Bu
guru sedang membacakan perolehan suara dari pemilihan ketua kelas.
Bu
Guru : “Yoon Eun-Seo. Choi Shin-ae. Yoon Eun-Seo. Choi Shin-ae. Dan ini adalah
suara terakhir. Yoon Eun-Seo.”
Bu
guru dan murid sekelas memberi tepukan tangan. Eun Seo tersenyum sangat lebar
karena memenangkan pemilihan.
Bu
Guru : “Yoon Eun-Seo memiliki 29 suara dan Choi Shin-ae memiliki 16 suara. Jadi
ketua kelas untuk semester kedua adalah Yoon Eun-Seo dan Shin-ae
adalah
wakil ketua kelas.”
Eun
Seo dan Shin Ae berdiri di tempat. Eun Seo memberi hormat di tempat sambil
memutar badan sedangkan Shin Ae menatap kesal pada Eun Seo. Para murid bertepuk
tangan. Bu guru minta murid tenang. Mereka pun tenang.
Bu
Guru : “Dan kelas jadi juara 1 di ujian tengah semester.”
Para
murid histeris dan bertepuk tangan. Bu guru minta para murid berdiam dengan
melakukan sst.
Bu
Guru : “Dan Choi Shin-ae juara 1
di
kelas ini. Selamat.”
Shin
Ae tersenyum kecil basa-basi.
Bu
Guru : “Semuanya pasti sudah tau tentang pameran ilustrasi puisi bulan depan.”
Para
murid : “Ya.”
Bu
Guru : “Guru sastra merekomendasikan Yoon Eun-Seo dan Choi Shin-ae. Menurut
Ibu, Eun-Seo yang harus melakukannya. Shin-ae sudah berpartisipasi dalam
pameran
di semester 1. Dan kakak Eun-Seo bisa membantunya dengan ilustrasi. Shin-ae, kau
tidak keberatan, kan?”
Shin
Ae menunjukkan ekspresi kecewa dan sebal. Eun Seo mengkerutkan alisnya dan
memonyongkan bibirnya sambil bergumam tanda sebal.
Shin
Ae : “Tidak.”
Shin
Ae menjawab lemas.
Bu
Guru : “Dan ibu Eun-Seo akan mengirimkan kue beras untuk merayakan kerja keras
kita hari Sabtu ini.”
Para
murid senang dan bertepuk tangan. Eun Seo tersenyum lebar sedangkan Shin Ae
sangat sebal. Bu guru dan murid lelaki pun meninggalkan kelas sedangkan para
murid wanita berganti baju olahraga di kelas sambil mengobrol. Eun Seo
memamerkan rok dalemannya sebelum melipatdan menyimpannya.
Lee
Kang Hee : “Itu lucu sekali.”
Eun
Seo : “Benarkah?”
Lee
Kang Hee : “Aku iri padamu.”
Teman-teman
Shin Ae : “Semuanya, ibu Eun-Seo akan membagikan kita kue beras Sabtu ini. Shin-ae
juara 1 di kelas,
tapi
kenapa Eun-Seo yang jadi ketua kelas?”
Lee
Kang Hee : “Eun-Seo memenangkan pemilihan dengan adil.
Teman
Shin Ae : “Lee Kang-hee, kau jangan ikut campur. Apakah kau itu pembantunya?”
Lee
Kang Hee tidak terima dan berdiri.
Lee
Kang Hee : “Apa?”
Teman
Shin Ae : “Berterimakasihlah pada kakakmu yang seperti pangeran,
karena
kakakmulah kau bisa berpartisipasi dalam pameran puisi. Beruntung banget ya.”
Eun
Seo juga tidak terima dan berdiri menatap temannya Shin Ae dari tempatnya.
Eun
Seo : “Ya, aku beruntung. Kalau kakakku seorang pangeran, berarti aku seorang
putri. Terima kasih telah memanggilku putri.”
Lee
Kang Hee : “Iya, Joon-Seo adalah seorang pangeran dan aku putrinya.”
Teman
Shin Ae merasa kalah namun tidak terima. Eun Seo mendekati meja Shin Ae dan
berdiri disebelah meja Shin Ae sambil mengajak bersalaman.
Eun
Seo : “Mari kita bekerja sama. Dan kalau kau mau mengatakan sesuatu, katakan padaku.
Kau bisa bicara padaku kapan saja.”
Shin
Ae buang muka. Mereka pun pergi ke ruang olah raga. Mereka bermain handball
(lempar bola tangan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar