Rabu, 21 November 2018

Donasi

Menyumbang dan bersedekah dengan ikhlas


Untuk kelancaran dan kelanjutan blog ini, silahkan menyumbang dengan cara mengirimkan dana se-ikhlasnya ke 

nomer rekening 

BNI Syariah
0289-150-659
a/n
Ester Dwi Hapsari


atau mengirimkan pulsa ke nomer 

08979964625.

*sekedar informasi, admin ini anak yatim dan termmasuk golongan kaum duafa alias miskin. Ibu admin janda usia 64 tahun. Ayah admin sudah meninggal.

Minggu, 18 November 2018

Autumn in My Heart (Endless Love) Episode 1 Part 1

Autumn in My Heart (Endless Love) 

DraKor Tahun 2000 

Episode 1 Part 1


Di luar ruangan bayi di sebuah rumah sakit. Ayah Joon Seo menggendong Joon Seo yang masih balita untuk melihat adik Joon Seo dari kaca ruangan bayi.

Ayah Yoon Joon Seo   : “Yoon Joon-Seo, itu adik bayimu. Bukankah dia cantik? Ayah segera kembali. Jangan kemana-mana ya”

Joon Seo kecil diturunkan dari pelukan ayahnya. Kemudian ayah Joon Seo pergi secara bersamaan seorang suster keluar dari ruangan bayi tanpa menutup pintu sehingga Joon Seo masuk ruangan bayi tanpa diketahui. Di dalam ruangan, Joon Seo kecil melepas 2 kartu nama dari box bayi dan melemparkannya ke lantai. Kemudian suster pun datang.

Suster   : “Kamu tidak boleh bermain di sini ya”

Suster melihat 2 papan nama tersebar di lantai

Suster   : “Apakah kamu yang melepasnya?”
Suster pun memasangnya tanpa tau bahwa kartu namanya tertukar. Kemudian suster mengendong Joon Seo keluar ruangan bayi.

15 tahun kemudian…

Di sebuah perbukitan hijau yang indah, Nampak dua remaja sedang bersepeda berdampingan dengan sangat bahagia.

Di kelas seni di sekolah, Joon Seo remaja sedang melukis dengan serius dan menjatuhkan kuasnya. Saat sedang bersimpuh mengambil kuas, tiba-tiba seorang siswi culun masuk ke ruangan tersebut dan duduk kemudian menangis tanpa melihat sekelilingnya. Siswi culun itu membuka sebuah surat cinta dan meremasnya dengan penuh kekesalan.

Siswi culun : “Yoon Joon-Seo, jahat…”

Joon Seo melihat siswi culun itu dengan heran dari lantai disamping kursinya. Siswi culun itu kaget melihat Joon Seo dan langsung berdiri dan berhenti menangis.

Siswi culun : “Yoon Joon-Seo… Apa yang kau lakukan di sini?”

Joon Seo pun berdiri dan siswi culun itu mendekati Joon Seo dan memperlihatkan surat cintanya.

Siswi culun : “Apakah kau membuang surat ini?”

Joon Seo : “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuangnya. Tapi tidak ada nama pengirimnya. Aku jadi tak dapat mengembalikannya padamu. Apa kau keberatan?”

Siswi Culun : “Apa kau tidak menyukaiku?”

Joon Seo tersenyum sinis dan melihat pintu kelas. Eun Seo berdiri sambil membawa beberapa surat cinta.

Joon Seo : “Sudah ada orang lain.”

Siswi itu tidak terima dan menampar Joon Seo lalu lari keluar kelas. Joon Seo yang kesal bergegas membereskan alat lukisnya.
Eun Seo yang kaget pun mendekati Joon Seo dengan membawa beberapa surat cinta.

Joon Seo : “Apa yang kau lakukan di sini?”
Eun Seo  : “Ini.”

Eun Seo memberikan beberapa surat cinta pada Joon Seo. Tapi Joon Seo mengambilnya dan langsung melemparkannya ke ember berisi air dan kuas.

Joon Seo : “Kau juga jangan melakukan ini”

Joon Seo marah dan membawa semua perlengkapannya kemudian berjalan cepat meninggalkan kelas.

Melihat Joon Seo meninggalkan, 2 siswi senior yang menunggu diluar kelas pun masuk kelas seni dan mendekati Eun Seo.

2 Siswi Senior : “Bagaimana? Beritahu kami.”

Eun Seo menunjuk ke arah ember berisi air dan kuas.

2 Siswi Senior : “Apa ini? Ini surat kami kan? Apa yang terjadi? Beritahu kami apa yang terjadi.”

2 Siswi Senior kecewa dan memeriksa suratnya.

2 Siswi Senior : “Dia bahkan tidak membukanya. Keterlaluan.”

Eun Seo tertawa di belakang mereka.

2 Siswi Senior : “Bagaimana dia bisa melakukan ini?”

Eun Seo teringat pada Joon Seo dan langsung berlari menyusulnya ke tempat parkir.

Eun Seo  : “Tunggu aku.”

Eun Seo menuruni tangga kelas menuju lapangan parkir.

Eun Seo: “Kak Joon-Seo, aku tidak pintar bersepeda.”

Joon Seo tidak menghiraukannya dan langsung pergi dengan bersepeda. Eun Seo pun perlahan menyusulnya dengan sepeda. Joon Seo sesekali menoleh kebelakang dan melihat Eun Seo yang kesusahan bersepeda. Karna tidak tega, Joon Seo pun turun dari sepeda dan berjalan menuntun sepedanya. Melihat hal itu, Eun Seo pun ikut turun dari sepeda dan berjalan menuntun sepeda berdampingan dengan Eun Seo.

Eun Seo  : “Aku melakukan sesuatu yang benci kakakku lagi. Aku menyesal.”

Joon Seo melirik sambil tersenyum senang.

Eun Seo : “Tapi itu tidak sepenuhnya salahku. Aku tidak bisa menolak seniorku. Lagian kalau kakak tidak mau jadi target mereka,kakak harus punya pacar. Aku lelah jadi pengirim surat cinta.”

Joon Seo menoleh dan berhenti.

Eun Seo : “Tidak, tak masalah, aku hanya ingin kakak memaafkanku.”

Joon Seo melanjutkan menuntun sepeda sambil tersenyum lebar. Kemudian Joon Seo berhenti dan menoleh sambil berekspresi datar (poker face). Eun Seo berekspresi tegang dan ikut berhenti.

Joon Seo : “Kau dimaafkan.”

Joon Seo tersenyum. Dan Eun Seo pun ikut tersenyum lega. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.

Eun Seo  : “Harusnya kakak melakukannya sedari tadi. Ngomong-omong, siapa yang kakak suka? Siapa? Kakak bilang ada seseorang.”
Joon Seo : “Diam.”
Eun Seo  : “Siapa dia?”
Joon Seo : “Rahasia. Jangan bilang apa-apa pada Ayah dan Ibu.”
Eun Seo  : “Terserah aku dong.”
Joon Seo : “Yoon Eun-Seo.”
Eun Seo  : “Terserah aku dong.”
Joon Seo : “Oke, ayo kita main kertas, gunting, batu untuk itu.”
Eun Seo  : “Oke.”

Eun Seo melakukan pemanasan jari.

Eun Seo  : “Aku siap.”

Mereka bersuit.

Eun Seo : “Aku kalah lagi. Mengapa aku selalu kalah?”

Eun Seo sebal dan berjalan duluan.

Joon Seo : “Karna kamu selalu memilih batu.” Joon Seo bergumam sambil tersenyum sangat lebar. Lalu melanjutkan menuntun sepeda.

Jeon Seo : “Hujan.”

Mereka pun menaiki sepedanya lagi sambil hujan-hujanan. Kemudian mereka berteduh di depan pintu pabrik dalam keadaan basah kuyup.

Eun Seo  : “Kenapa tidak berhenti?”
Joon Seo : “Hujannya hanya lewat kok.”
Eun Seo : “Aku basah kuyup. Rokku jadi berat.”

Karena tidak nyaman dengan roknya, Eun Seo pun melepas roknya dan hanya memakai rok daleman.

Joon Seo : “Apa yang kamu lakukan?”

Karena kaget, Joon Seo pun berdiri di depan Eun Seo berusaha menyembunyikan Eun Seo dibelakang badannya.

Eun Seo  : “Tidak apa-apa. Tidak ada orang di sekitar lagian aku memakai rok daleman kok.”
Joon Seo : “Rok daleman? Sejak kapan kamu mulai memakai itu?”
Eun Seo  : “Aku sudah dewasa sekarang.”

Eun Seo menjemur roknya di boncengan sepedanya. Melihat hal itu, Joon Seo tersenyum bangga sambil melihat rok daleman Eun Seo.

Eun Seo : “Apa yang kakak lihat?”

Joon Seo hanya yersenyum sambil melihat hujan yang belum reda kemudian mengulurkan tangannya ke air hujan dan Eun Seo pun ikut mengulurkan tanggannya menikmati air hujan.

Di kamar mandi di rumah Eun Seo. Eun Seo mandi berendam air hangat di bathtube bersama ibunya. Mereka saling menggosok punggung.

Ibu   : “Kakakmu naksir seseorang?”
Eun Seo  : “Dia bilang rahasia.”
Ibu   : “Apa kau juga naksir seseorang?”
Eun Seo  : “Ada.”
Ibu   : “Siapa dia?”
Eun Seo  : “Seseorang yang ibu kenal. Kakak.”

Ibu langsung menggelitik Eun Seo dan memegang dada Eun Seo.

Ibu : “Biarkan ibu lihat, sejak kapan sebesar ini?”
Eun Seo : “Aku tidak tahu. Mungkin menurun dari ibu.”
Ibu : “Dasar.”
Eun Seo : “Sekarang punggung ibu.”
Ibu : “Kalau udah kuliah dan punya pacar, bilang ke ibu dulu.”
Eun Seo  : “Pasti.”

Eun Seo menggosok punggung ibu lalu melihat telinga ibu dan membersihkannya dari belakang.

Eun Seo : Ibu sepertinya akan kaya.
Ibu : “Mengapa?”
Eun Seo : “Ibu punya telinga yang tebal.”
Ibu : “Nenek juga sama.”
Eun Seo : “Benarkah? Tapi aku tipis.”
Ibu : “Benarkah? Seharusnya telingamu tebal juga. Kenapa jadi tipis begini?”
Eun Seo : “Kurasa aku bukan anak ibu. Aku tidak mirip ibu. Aku pasti diadopsi.”

Ibu   : “Apa? Eun-Seo ibu yang cantik.”

Di ruang makan Ayah, Ibu, Joon Seo dan Eun Seo sedang makan malam.

Eun Seo : “Aku kenyang. Aku terlalu banyak makan.”
Ibu : “Makan lebih banyak. Biar dadamu lebih besar.”

Joon Seo, Ayah dan Eun Seo melotot dan kaget mendengarnya.

Eun Seo : “Ibu!”
Ibu : “Sayang, Eun-Seo sudah… Sudah…”
Joon Seo : “Sudah?”
Eun Seo : “Ibu…” sambil menyikut ibunya
Ibu : “Dadanya.”
Ayah : “Dada?”
Joon Seo : “Sini, aku lihat.”

Joon Seo berdiri dari kursi meja makan dan mengejar Eun Seo yang kabur dari meja makan. Mereka berlarian disekitar meja makan

Eun Seo : “Bu, hentikan kak Joon-Seo.” masih sambil berlari menghindari Joon Seo.

Hari sudah larut malam, mereka makan malam di taman belakang rumah dengan sangat gembira.

Pagi harinya, Joon Seo dan Eun Seo menuntun sepeda berdampingan menuju sekolah.

Eun Seo : “Kalau aku terpilih sebagai ketua kelas lagi, tidak janji akan menghapuskan PR. Tapi aku akan berusaha keras untuk semuanya. Bagaimana pidatoku?”
Joon Seo : “Kau pikir kakak akan bilang pidatomu kedengarannya cukup bagus, kan?”
Eun Seo : “Dan kakak pikir, "Dia tidak akan pernah terpilih," kan?”
Joon Seo : “Kau pikir "Aku akan menang pemilu dan menunjukkan pada kakak, "benar kan?”
Eun Seo : “Kakak pikir "Aku harap Eun Seo kalah dari Choi Shin-Ae", benar kan?”
Joon Seo : “Choi Shin-ae?”
Eun Seo : “Dia sainganku.”
Joon Seo : “Apakah dia menyulitkanmu?”
Eun Seo : “Tidak.”

Joon Seo merasa ada yang tidak beres.

Setting berpindah ke pintu lorong. Terlihat Joon Seo sedang naik tangga menuju pintu lorong. Sesampainya di lorong, Joon Seo langsung melepaskan sepatunya dan menjinjingnya. Ternyata Joon Seo sudah ditunggu oleh Choi Shin-Ae dan temannya.

Choi Shin-Ae : “Senior.”
Joon Seo : “Murid baru, kau di sini untuk menemuiku?”
Choi Shin-Ae : “Ya.”

Joon Seo masuk kelas seni.

Joon Seo : “Ada apa?”

Choi Shin-Ae dan temannya ikut masuk kelas seni, mengikuti langkah Joon Seo.

Choi Shin-Ae : “Aku ingin kau membantuku. Aku sangat menyukai
Lukisanmu yang dipajang di lorong.”
Joon Seo : “Jadi?”

Joon Seo membuka tirai kelas seni. Choi Shin-Ae dan temannya senang karena Joon Seo menjawab perkataan Choi Shin-Ae.

Choi Shin-Ae : “Aku ingin kau melukis gambar puisiku untuk kontes puisi.”

Joon Seo membuka jendela kelas seni. Lalu Joon Seo berbalik badan untuk berbicara sambil bertatap muka dengan Choi Shin-Ae dan temannya sambil memasang ekspresi meremehkan.

Joon Seo : “Kau belum pernah bertemu denganku sebelumnya, kan?”
Choi Shin-Ae : “Ya? belum.”
Joon Seo : “Terus kenapa aku harus melukis untukmu?”

Joon Seo buang muka dan duduk di kursi samping jendela.

Joon Seo : “Aku agak sibuk. Maaf.”

Choi Shin-Ae sangat marah dan lari keluar kelas.

Teman Shin Ae : “Shin-ae. Choi Shin-ae.”

Temannya Shin Ae ikut berlari mengejar Shin Ae. Mendengar nama Shin Ae, Joon Seo pun berdiri.

Joon Seo : “Tunggu.”

Teman Shin Ae yang baru sampai pintu pun berhenti dan menatap Joon Seo yang masih berdiri disamping jendela.

Joon Seo : “Namanya Choi Shin-ae?”
Temannya Shin Ae : “Ya.”

Joon Seo tersenyum di sebelah bibirnya.

Joon Seo : “Dia di kelas 2?

Di ruangan kelas 2-1.
Bu guru sedang membacakan perolehan suara dari pemilihan ketua kelas.

Bu Guru : “Yoon Eun-Seo. Choi Shin-ae. Yoon Eun-Seo. Choi Shin-ae. Dan ini adalah suara terakhir. Yoon Eun-Seo.”

Bu guru dan murid sekelas memberi tepukan tangan. Eun Seo tersenyum sangat lebar karena memenangkan pemilihan.

Bu Guru : “Yoon Eun-Seo memiliki 29 suara dan Choi Shin-ae memiliki 16 suara. Jadi ketua kelas untuk semester kedua adalah Yoon Eun-Seo dan Shin-ae
adalah wakil ketua kelas.”

Eun Seo dan Shin Ae berdiri di tempat. Eun Seo memberi hormat di tempat sambil memutar badan sedangkan Shin Ae menatap kesal pada Eun Seo. Para murid bertepuk tangan. Bu guru minta murid tenang. Mereka pun tenang.

Bu Guru : “Dan kelas jadi juara 1 di ujian tengah semester.”

Para murid histeris dan bertepuk tangan. Bu guru minta para murid berdiam dengan melakukan sst.

Bu Guru : “Dan Choi Shin-ae juara 1
di kelas ini. Selamat.”

Shin Ae tersenyum kecil basa-basi.

Bu Guru : “Semuanya pasti sudah tau tentang pameran ilustrasi puisi bulan depan.”
Para murid : “Ya.”
Bu Guru : “Guru sastra merekomendasikan Yoon Eun-Seo dan Choi Shin-ae. Menurut Ibu, Eun-Seo yang harus melakukannya. Shin-ae sudah berpartisipasi dalam
pameran di semester 1. Dan kakak Eun-Seo bisa membantunya dengan ilustrasi. Shin-ae, kau tidak keberatan, kan?”

Shin Ae menunjukkan ekspresi kecewa dan sebal. Eun Seo mengkerutkan alisnya dan memonyongkan bibirnya sambil bergumam tanda sebal.

Shin Ae : “Tidak.”

Shin Ae menjawab lemas.

Bu Guru : “Dan ibu Eun-Seo akan mengirimkan kue beras untuk merayakan kerja keras kita hari Sabtu ini.”

Para murid senang dan bertepuk tangan. Eun Seo tersenyum lebar sedangkan Shin Ae sangat sebal. Bu guru dan murid lelaki pun meninggalkan kelas sedangkan para murid wanita berganti baju olahraga di kelas sambil mengobrol. Eun Seo memamerkan rok dalemannya sebelum melipatdan menyimpannya.

Lee Kang Hee : “Itu lucu sekali.”
Eun Seo : “Benarkah?”
Lee Kang Hee : “Aku iri padamu.”
Teman-teman Shin Ae : “Semuanya, ibu Eun-Seo akan membagikan kita kue beras Sabtu ini. Shin-ae juara 1 di kelas,
tapi kenapa Eun-Seo yang jadi ketua kelas?”
Lee Kang Hee : “Eun-Seo memenangkan pemilihan dengan adil.
Teman Shin Ae : “Lee Kang-hee, kau jangan ikut campur. Apakah kau itu pembantunya?”

Lee Kang Hee tidak terima dan berdiri.

Lee Kang Hee : “Apa?”

Teman Shin Ae : “Berterimakasihlah pada kakakmu yang seperti pangeran,
karena kakakmulah kau bisa berpartisipasi dalam pameran puisi. Beruntung banget ya.”

Eun Seo juga tidak terima dan berdiri menatap temannya Shin Ae dari tempatnya.

Eun Seo : “Ya, aku beruntung. Kalau kakakku seorang pangeran, berarti aku seorang putri. Terima kasih telah memanggilku putri.”
Lee Kang Hee : “Iya, Joon-Seo adalah seorang pangeran dan aku putrinya.”

Teman Shin Ae merasa kalah namun tidak terima. Eun Seo mendekati meja Shin Ae dan berdiri disebelah meja Shin Ae sambil mengajak bersalaman.

Eun Seo : “Mari kita bekerja sama. Dan kalau kau mau mengatakan sesuatu, katakan padaku. Kau bisa bicara padaku kapan saja.”

Shin Ae buang muka. Mereka pun pergi ke ruang olah raga. Mereka bermain handball (lempar bola tangan).


Rabu, 07 November 2018

Kelas 1 Tema 1 Subtema 1

Tema 1 Diriku Siswa

Subtema 1 Aku dan Teman Baru

Berkenalan sambil Bernyanyi



Siapa Namamu?

Ciptaan A. T. Mahmud

1     2 l 3 . l 3    4   l 5 . l
Sia pa kah na ma mu

5     4 l 3 . l 3 3 l 1 . ll

Na ma ku  Si ti (sebutkan namamu)


Kerja Sama dengan Orang Tua

Orang tua meminta siswa menyebutkan namanama teman baru siswa di sekolah.
Reyhan, Radit, Arya, Ipan, Razka, Razwa, Rasya, Vagan, Sashimi, Nessa, Ayumi, Hilmi, Nano, Laura, Shinta, Piter, Radja, Qori, Dila, Firdha, Amira, Fasha, Lintang, Riza, Rifki, Tanti, Dyah, Kelly, Philip, Isal, Reni, Rita, Joni, Bagus, Karla, Steven, dan Ralin 

Kerja Sama dengan Orang Tua

Orang tua meminta siswa menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan teman-teman baru di sekolah.
Nama lengkap: Fasha Wulandari dipanggil Fasha
Nama lengkap: Salman Hilmi Risqulloh dipanggil Hilmi
Nama lengkap: Riza Nur Fauzi dipanggil Riza
Nama lengkap: Radit Anglingko dipanggil Radit 

Nyanyikanlah bersama temanmu.
a-b-c
a b c d e f g
h i j k l m n
o p q r s t u
v w x y dan z
Sekarang aku tahu .
Ayo belajar denganku.





 Manakah nama teman Siti?Pasangkanlah.


(gambar 1.1) 


Temukan pasangan gambar yang sama banyak!


(gambar 1.2) 


Kerja Sama dengan Orang Tua

Orang tua menanyakan kepada siswa tempat tinggal teman barunya.
Rumah Fasha dibelakang rumah kita
Rumah Razka di dekat lapangan basket
Rumah Radit di dekat warung bu Tuti 

Kerja Sama dengan Orang Tua

Orang tua meminta siswa bercerita tentang salah satu teman barunya.
Nano itu anak nakal, dia sering melemparkan kertas dan spidol ke teman-teman dan dia suka membentak-bentak. 
Kalau Laura anak yang pendiam, pemurung dan tidak suka bersentuhan atau terlalu dekat dengan teman-teman. 
Berbeda dengan Riza, orangnya suka bercerita, suka bermain tapi dia sangat pelit. 

1. Pasangkan gambar dengan lambang bilangannya


(gambar 1.3) 


2. Hitung banyaknya benda di dalam kotak.Lingkari lambang bilangan yang sesuai.


(gambar 1.4) 


Lingkari huruf yang hilang dari nama teman Siti


(gambar 1.5) 

Kerja Sama dengan Orang Tua

Orang tua meminta siswa berlatih menyebutkan huruf-huruf penyusun nama teman-teman barunya.
Dila= d-i-l-a, sashimi= s-a-s-h-i-m-i, steven= s-t-e-v-e-n, qori= q-o-r-i dan razwa= r-a-z-w-a 

Susunlah huruf-huruf sesuai dengan nama teman Siti.
Kerjakan bersama teman-temanmu.
I t s i      =     s i t i
y d u a    =     d a y u 
l n i a      =     l a n i
e n b i     =     b e n i
d i u n     =     u d i n
o e d       =     e d o 

Ayo Berlatih
Ajak teman barumu berlatih bersama.
Mencari huruf penyusun nama.

1. Pasangkan nama-nama di bawah ini dengan huruf depannya yang sesuai. 


(gambar 1.6)

2. Nama siapakah ini?

Susunlah huruf yang diacak di bawah ini.
Pasangkanlah.


(gambar 1.7) 

Hitung teman barumu, lalu tuliskan lambang bilangannya.
Perhatikan contoh.



(gambar 1.8a)




(gambar 1.8b)  


Kerja Sama dengan Orang Tua

Orang tua meminta siswa membilang banyaknya teman baru yang laki-laki dan perempuan.
Banyaknya teman baru laki-laki = 18 orang
Banyaknya teman baru perempuan = 19 orang 

Sekarang aku bisa
1. Memperkenalkan diri
2. Mengenal nama teman
3. Mengenal bilangan 1 sampai dengan 10
4. Mengenal huruf a sampai dengan z
5. Mendengarkan teman bercerita
6. Bersikap tertib saat bermain
7. Senang mempunyai teman baru
8. Memberi salam saat masuk dan keluar kelas
9. Berdoa sebelum melakukan kegiatan

Donasi

Menyumbang dan bersedekah dengan ikhlas Untuk kelancaran dan kelanjutan blog ini, silahkan menyumbang dengan cara mengirimkan dana se-...